NAMA BUAH-BUAHAN DALAM PENYEBUTAN MELAYU MERLUNG

Merlung's Blog

Origin by MERLOENG THEXFACTOR

Buah-buahan dalam bhs asli merlung yang unik dan langkah, diantaranya ada yang endemic tidak ada di daerah lain, sayangnya sebagian besar buah ini sangat susah ditemukan di habitatnya di Merlung atau langkah atau dulu pernah hidup tetapi sekarang tinggal nama dan cerita saja. Ada beberapa buah di bawah ini yang tidak bisa kami padankan kedalam bahasa Indonesia, karena tidak tersedia di pasar modern atau juga tempat lain. Anda bisa berpartisipasi membantu mencarikan namanya dan gambarnya

1

ANGKUNANG

:

BUAH RAMAN

Buah ini berasa asam-asam manis, sebesar jempol kaki, buah ini masih terdapat di kebun-kebun org merlung, katanya jika melihat orang makan buah angkunag ini tidak terasa meneteskan air liur, saking nikmatnya
2 BENDARO : LENGKENG
  Buah ini dinamakan bendaro dalam bhs merlung, buah bendaro di hutan merlung tidak sebesar asli di jual di pasar, karena sudah dibudidaykan
3 JAMBU MONYET : JAMBU METE
Jambu mete…

Lihat pos aslinya 289 kata lagi

REGULASI HORMONAL SELAMA SIKLUS MENSTRUASI

BAB I. PENDAHULAUN

  1. Latar Belakang

Seperti halnya pada pria, reproduksi pada wanita juga berada di bawah control dari hormone dan regulasi saraf. Perkembangan organ reproduksi wanita dan fungsi normalnya tergantung pada jumlah hormone di dalam tubuh wanita tersebut. Selama pubertas, wanita mengalami pristiwa pertama pada pendarahan menstruasinya yang disebut menarche, yang umumnya dimulai pada usia antara 11 sampai 13 tahun dan umumnya juga sempurna ada usia 16 tahun. Vagina, uterus dan tubafalopi serta genitalia bagian eksternal juga mengalami perkembanagan. Lemak tersimpan di bagian dada dan sekitar pinggul menyebabkan bagian-bagian trsebut membesar pada fase dewasa.

Laju peningkatan sekresi estrogen dan progesteron pada ovary merupakan bentuk respon primer untuk perubahan yang terjadi pada masa pubertas. Karena sebelum pubertas, estrogen dan progesteron disekresikan dalam jumlah kecil termasuk LH dan FSH. Rendahnya laju sekresi hormone-hormon tersebut karena sediktnya GnRH yang dihasilan oleh hipotalamus. Siklus sekresi LH dan FSH, ovulasi, perubahan sekresi estrogen dan progesterone setiap bulannya serta perubahan-perubahan lain termasuk ke dalam karakteristik dari siklus menstruasi.

  1. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka disusun rumusna masalah sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan siklus menstruasi?
  2. Bagaimanakan regulasi hormonal selama siklus menstruasi?
  1. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini sebagai berikut:

  1. Untik memgetahui definisi dari siklus menstruasi
  2. Untuk mengetahui regulasi hormonal selama terjadinya siklus menstruasi pada wanita.

BAB II. PEMBAHASAN

  1. Siklus Menstruasi

mcycle1

Siklus smenstruasi secara tekhnik merujuk pada perubahan siklik yang terjadi pada seksual yang matang, wanita tidak hamil (nonpregnant females) dan puncaknya adalah menses. Siklus menstruasi dapat berlangsung selama 28 hari, meskipu ada juga yang lebih singkat, yaitu 18 hari dan lebih lama, yaitu 40 hari yang terjadi pada beberapa wanita. Kata “menses” berasal dari bahasa latin yag berarti bulan. Itu merupakan suatu periode dari pendarahan ringan yang terjadi kira-kira setiap bulan, saat dimana  epitelium uterin  menelupas dan keluar dari uterus. Menstruasi merupakan pristiwa keluarnya darah dan elemen-elemen lain dari membran mucous uterin. Meskipun siklus menstruasi secara spesifik merupakan siklus perubahan terjadi di dalam uterus, tetapi beberapa siklus perubahan yang lain yang terkait dengan siklus menstruasi dan semua siklus perubahan tersebut terjadi di dalam  sistem reproduksi wanita. Siklus-siklus tersebut termasuk di dalamnya terjadi perubahan sekresi hromon di dalam ovary dan di dalam uterus.

Hari pertama menses adalah hari pertama dari siklus menstruasi dan menses berakhir 4 sampai 5 hari. Ovulasi terjadi sekitar hari ke- 14 dari 28 hari siklus menstruasi, meskipun waktu terjadinya ovulasi bervariasi pada setiap wanita yang satu dengan wanita yang lain dan bervariasi pula pada satu wanita dari siklus menstruasi yang satu ke siklus menstruasi selanjutnya. Waktu antara ovulasi pada hari ke-14 dengan menses selanjutnya adalah 14 hari. Waktu antara hari pertama menses dengan hari ovulasi lebih bervariasi daripada waktu antara ovulasi dan menses selanjutnya. Waktu antara menses terakhir dan ovulasi disebut fase folikular, karena kecepatan perkembanagan dari folikel ovary yang disebut juga dengan fase ploriferatif, karena kecepata ploriferasi mucous uterin. Periode setelah ovulasi dan sebelum menses disebut fase luteal, karena keberadaan korpus luteum yang disebut juga dengan fase sekretori, karena kematangan dan sekresi oleh kelenjar uterin.

2. Regulasi Hormonal selama Siklus Menstruasi

aksis hipothalamus hipofisis ovarium

a. Siklus Ovari

Siklus ovary secara spesifik merujuk pada pristiwa yang terjadi di dalam ovary pada seksual yang matang, wanita tidak hamil (nonpregnant women) selama siklus menstruasi. Hipotalamus dan pituitari anterior menghasilkan hormon yang mengontrol pristiwa tersebut. FSH dari pituitary anterior berperan dalam menginisiasi perkembanagan folikel primer dan sebanayak 25 folikel mulai matang selamas setiap siklus menstruasi. Folikel yang memulai perkembangannya akibat respon FSH dapat tidak mengalami ovulasi selama siklus menstruasi yang sama dimana folikel-folikel tersebut mulai amtang, tetapi folikel-folikel tersebut dapat mengalami ovulasi satu atau dua siklus selanjutnya. Meskipun beberapa folikel mulai matang selama setiap siklus, normalnya hanya satu yang mengalami ovulasi dan sisanya mengalami degenerasi. Folikel yag lebih besar dan lebih matang muncul dan mensekresikan estrogen dan substansi lain yang mempunyai efek inhibitor terhadap folikel lain yang kurang matang.

Awal siklus menstruasi ditandai dengan sekresi GnRH dari hipotalamus, meningkatnya sensitivitas dari pituitary anterior akibat peningkatan GnRH. Perubahan stimulasi tersebut memproduksi dan mensekresi FSH dan LH dari pituitary anterior. FSH dan LH menstimulasi pertumbuhan dan pematangan folikel serta peningkatan sekresi estradiol oleh folikel yang sedang berkembang. FSH menekankan efeknya pada sel-sel granulose sedangkan LH efeknya dimulai pada sel-sel teka interna dan selanjutnya pada sel granulosa.

LH menstimulasi sel-sel teka interna untuk memproduksi androgen yang berdifusi dari sel-sel teka menuju sel-sel granulose. FSH  menstimulasi sel-sel  granulosa untuk mengubah androgen menjadi estrogen. Sebagai tambahan, secara berangsur-angsur FSH meningkatkan reseptor LH pada sel-sel granulosa dan estrogen yang dihasilkan oleh sel-sel granulosa meningkatkan reseptor LH dalam sel-sel teka. Setelah reseptor LH di dalam sel-sel granulosa meningkat, LH menstimulasi sel-sel untuk memproduksi beberapa progesterone yang berdifusi dari sel-sel granulosa menuju sel-sel teka interna dimana progesterone diubah menjadi androgen. Sehingga produksi androgen oleh sel-sel teka interna meningkat dan perubahan dari androgen menjadi estrogen oleh sel-sel granulosa berpengaruh pada peningkatan sekresi estrogen oleh sel-sel tersebut selama fase folikular, meskipun hanya terjadi sedikit peningkatan pada sekresi LH. Level FSH mengalami penurunan selama fase folikular karena folikel yang sedang berkembang memproduksi inhibin, dan inhibin memberikan efek umpan balik negative terhadap sekresi FSH.

Sementara itu, level estrogen mulai mengalami peningkatan pada fase folikular, dimana mereka memberikan efek umpan balik positif terhadap sekresi LH dan FSH oleh hormone pituitary anterior. Peningkatan level estrogen penting untuk terjadinya efek umpan balik positif. Sebagai respon dari efek umpan balik positif ini adalah peningkatan sekresi LH dan FSH secara cepat dan dalam jumlah yang banyak namun hanya sampai sebelum ovulasi.

Peningkatan level LH disebut gelombang LH dan peningkatan level FSH disebut gelombang FSH. Gelombang LH terjadi beberapa jam lebih awal dan kadar yang lebih tinggi daripada gelombang FSH. Gelombang LH menginisiasi terjadinya ovulasi dan menyebabkan folikel yang telah terovulasi menjadi korpus luteum. Sedangkan FSH dapat menjadikan folikel lebih sensitif untuk mempengaruhi LH dengan menstimulasi sintesis peningkatan reseptor LH di dalam folikel dan dengan menstimulasi perkembangan folikel yang dapat mengalami ovulasi pada siklus ovary selanjutnya.

Gelombang LH menyebabkan oosit primer melengkapi pembelahan meiosis I hanya sebelum atau selama proses ovulasi. Selain itu, gelombang LH menyebabkan beberapa pristiwa seperti inflamasi atau peradangan di dalam folikel matang dan mengakibatkan terjadinya ovulasi. Setelah ovulasi, produksi estrogen oleh folikel menurun dan produksi progesterone meningkat yang menyebabkan sel-sel granulosa diubah menjadi sel-sel korpus luteum. Setelah korpus luteum terbentuk, level progesterone menjadi lebih tinggi dibandingkan sebelum ovulasi dan beberapa estrogen juga diprosuksi. Peningkatan estrogen dan progesterone memeberiakn efek umpan balik negative terhadap sekresi GnRH dari hipotalamus. Akibatnya, sekresi LH dan FSH dari pituitary anterior menurun. Estrogen dan progesterone menyebabkan reseptor GnRH tidak teregulasi di dalam pituitary anterior dan sel-sel pituitary anterior menjadi kurang sensitif terhadap GnRH. Karena penurunan sekresi GnRH, laju sekresi LH dan FSH menurun menuju level paling rendah setelah ovulasi.

Jika terjadi fertilisasi, calon embrio akan mensekresikan substansii mirip LH yang disebut HCG (Human Chorionic gonadotropin), yang menjaga agar korpus luteum tidak mengalami degenerasi. Akibatnya level estrogen dan progesterone tidak mengalami penurunan dan menses tidak terjadi. Namun jika tidak terjadi fertilisasi, HCG tidak di produksi. Sel-sel korpus luteum mulai meluruh pada hari ke-25 atau ke-26 dan level estrogen dan progesterone menurun secara cepat yang menyebabkan terjadinya menses. Pada saat terjadinya menses, terjadi kontraksi pada sel-sel otot polos yang terdapat di uterus. Kontraksi tersebut di stimulasi oleh hormone oksitosin. Hormon oksitosin ini disintesis oleh badan sel nucleus paraventrikularis pada hipotalamus.

b. Siklus Uterus

Siklus uterus berarti perubahan yang terjadi pada endometrium dari uterus selama siklus menstruasi. Di sisi lain juga banyak perubahan yang terjadi di dalam vagina dan struktur lain selama siklus menstruasi. Sekresi siklik dari estrogen dan progesteronlah yang paling besar meyebabkan perubaahan tersebut.

Endometrium dari uterus mulai berploriferasi setelah menses. Sisa sel-sel epithelial dengan cepat membelah dan menggantikan lapisan sel fungsional yang telah meluruh selama menses terakhir. Lapisan seragam dari sel-sel endometrial berbentuk kubus diproduksi. Sel-sel  tersebut pada akhirnya menjadi sel-sel silindris dan melipat membentuk tubular kelenjar spinal. Kelenjar spiral berperan untuk mensuplai nutrisi bagi sel-sel  endometrial. Setelah ovulasi, endometrium menjadi semakin tebal dan kelenjar spiral berkembang semakin luas dan mulai mensekresikan sejumlah kecil cairan yang mengandung glikogen. Kira-kira 7 hari setelah ovulasi atau sekitar hari ke-21 dari siklus menstruasi, endometrium dipersiapkan untum menerima calon embrio jika terjadi fertilisasi. Jika calon embrio tiba di dalam uterus lebih awal atau lebih terlambat, endometrium tidak akan menyediakan lingkungan yang sesuai untuk calon embrio.

Estrogen menyebabkan kadar sel-sel endometrial semakin berkurang dan sel-sel miometrial mengalami proliferasi. Estrogen juga membuat jaringan uterin menjadi lebih sensitif terhadap progesterone dengan menstimulasi sintesis molekul reseptor progesterone di dalam sel-sel uterin. Setelah ovulasi, progesterone dari korpus luteum berikatan dengan reseptor progesterone, mengakibatkan hipertropi seluler di dalam endometrium dan miometrium dan menyebabkan sel-sel endometrium menjadi meluruh. Peningkatan estrogen mengakibatkan sel-sel otot polos dari uterus berkontraksi dalam respon untuk menstimulus, tetapi progesterone menghambat sel-sel otot polos untuk berkontraksi. Ketika level progesterone meningkat bersamaan dengan level estrogen menurun, megakibatkan kontarksi sel-sel otot polos uterin berkurang.

Jika kehamilan tidak terjadi sampai hari ke-25 atau ke-26, level progesterone dan estrogen menurun menjadi level rendah mengakibatkan korpus luteum mengalam degenerasi. Arteri spiral mengkerut secara berangsur-angsur sampai level progesterone hilang. Akibatnya, semua tetapi bagian basal kelenjar spiral menjadi ischemic dan kemudian necrotic. Saat sel-sel mengalami necrotic, sel-sel tersebut akan meluruh ke dalam lumen uterin. Necrotic endometrium, sekresi mucous dan sejumlah darah dari arteri spiral bergabung menjadi cairan menstruasi. Penurunan level progesterone dan peningkatan di dalam inflamasi substansi yang menstimulasi sel-sel  otot polos miometrial menyebabkan uterin berkontraksi yang memaksa cairan menstruasi keluar sari uterus melalui leher rahim (serviks) dan menuju vagina.

BAB III. KESIMPULAN

Berdasarkan tujuan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa siklus menstruasi umumnya terjadi selama 28 hari. Namun ada yang terjadi selama 14 hari bahkan 40 hari. Hal tersebut tergantung kondisi setiap wanita. Karena siklus menstruasi pada setiap wanita sangat bervariasi dan pada satu wanita memiliki siklus menstruasi yang bervariasi antara yang satu siklus dengan siklus selanjutnya. Hormon-hormon yang berperan dalam siklus menstruasi dapat diketahui dari dua siklus utama yang terjadi, yaitu siklus ovary dan siklus uterus. Dimana hormone-hormon tersebut diantaranya: GnRH (FSH dan LH), estrogen dan progesterone. Dalam kedua siklus tersebut terjadi laju peningkatan dan penurunan level hormone yang memberikan dampak pada proses terjadinya menstruasi.

DAFTAR PUSTAKA

Majalah Kesehatan. Hormon-Hormon dalam Siklus Menstruasi. Diakses di http://majalahkesehatan.com/hormon-hormon-dalam-siklus-menstruasi/. (Pada tanggal 12 Mei 2014 ).

Marieb, Elaine N.. 2001. Human Anatomy and Physiology. San Fransisco : Benjamin Cummings Imprint of Addison Wesley Longman Inc.

Scott ,Jamie. 2011. Menstrual Cycle and Exercise Metabolism Part One. Diakses di  http://thatpaleoguy.com/2011/02/07/the-menstrual-cycle-and-exercise-metabolism-part-one/. (Pada tanggal 12 Mei 2014 ).

Seeley, Rod R. et al. 2003. Anatomy and Physiology Sixth Edition. United States: McGraw-Hill